NOVEL "Merpati Putih"
Chapter I
Namaku Jupri
Mengapa sih Orang tuaku memberi nama
agak kebarat-baratan? Ibuku pernah cerita bahwa nenekku dari ibuku keturunan
Belanda, yang dinikahi Kakekku di Indonesia tepatnya di daerah dekat Batavia
(Mungkin tempat tinggalku yang sekarang di Bogor pedesaan) tapi bukan seorang bangsawan. Mengapa Ibuku
tidak terlihat seperti keturunan Belanda? Karena Ibu lebih mirip dengan
bapaknya. Mungkin seperti itu, menurutku. Sama halnya dengan adikku, Ia diberi
nama Wiliam Raditya, dengan nama panggilan Wira. Keluargaku ini mungkin
Keluarga yang tidak terlalu mewah. namun yang kami rasakan bahagia, karena kami
selalu berkumpul bersama. Bahagia itu bukan dengan harta tapi dengan kasih
sayang. Mungkin itu yang Aku rasakan.
Kami satu komplek dengan Keluarga
berada. Walaupun begitu, para tetanggaku saling membantu satu sama lain. Jika
ada yang keluarga yang sakit pasti tetangga-tetangganya melongo. Benar bahwa
manusia itu Makhluk sosial, tidak bisa hidup tanpa bantuan Orang lain. Begitu
pun Aku tidak bisa hidup tanpa kedua sahabatku. Yah memang terkadang mereka
menyebalkan tapi lebih banyak menyenangkannya.
Banyak hal yang tak bisa dilupakan
ketika bermain dengan mereka. Satu hal yang paling teringat adalah ketika Kami
bermain di sungai. Karena keasyikan main air, kami sampai lupa waktu hingga
petang. Ibu dan Bapak kami mencari kami, Mereka khawatir takut kami terhanyut
di sungai. Lalu menjemput kami dengan membawa rotan, Kami berlari menjauh
karena akut dipukul orang tua kami. Sampai akhirnya, kami terjatuh ke dalam
pembuangan tinja dekat kampung sebelah. Membayangkannya pun terkadang Aku suka
tertawa sendiri.
Aku pernah berjanji pada diriku
sendiri untuk tidak melupakan masa-masa kami sampai tua nanti. Namun, terkadang
Kami juga bermusuhan karena hal sepele misalnya rebutan permen. Tapi, musuhan
tidak lama terkadang beberapa jam kemudian, sudah baikkan kembali. Paling
sering musuhan adalah Andini dan Galang, andini cengeng sedangkan Galang jail.
Ya, aku jadi penengahnya.
Pernah terjadi masalah besar antara
mereka adalah ketika Galang mengejek Andini si buruk rupa, Andini menangis,
lalu mengadu kepada orang tuanya. Utung Galang mau minta maaf kepada Andini,
jadi masalh pun selesai. Keluargan Andini pun tidak mempermasaahkannya namanya
juga anak-anak. Memang wajah Andini itu aneh, menurutku. Masa masih kecil sudah
jerawatan. Coba pikir kenapa ? aneh kan?. Tapi, itu tidak dapat memisahkan
persahabatan kami.
Usia Kami pun sudah cukup untuk msuk
sekolah dasar. Orang tua Kami mendaftarkan ke sekolah dasar yang sama SDN 12
Karuhun. Sekolahnya cukup jauh, kira-kira 20 menit untuk sampai dengan jalan
kaki. Padahal ada sekolah yang paling dekat yaitu SDN 1 Merak. Tapi menurut
Orang tua Galang lebih baik di SDN 12 Karuhun karena disana Ibunya Galang
menjadi Guru, agar kami bertiga terkontrol perkembangan pendidikannya .
***
Hingga pada waktu pertama kali kita
masuk sekolah. Aku takut, karena bayanganku guru itu galak. Aku dan Andini pun
berangkat dengan diantar oleh Ayahnya Andini naik motor. Maklumlah, pada waktu
itu Bapakku belum punya Motor. Sedangkan Galang bareng berangkat dengan Ibunya.
Stelah sampai di sekolah ternyata kami sekelas yaitu 1b.
Biasa awal masuk sekolah perkenalan.
Ketika Andini maju untuk memperkenalkan dirinya. Ia ditertawakan oleh
teman-teman sekelas, dia diejek “MukJer” (muka jerawat). Sontak Andini yang
cengeng menangis di depan kelas. Aku berdiri untuk membela dan menenangkan
Andini. Seadangkan Galang, tahulah kalau Dia lagi makan tidak dapt diganggu.
Aku pun meminta Andini untuk
mengadukan kepada orang tuanya. Tapi, Dia tidak mau. Aku pun mengantarnya
pulang. Memang Aku sejak kecil tidak tega ketika melihat cewek menangis.
Bayangkan saja kalau yang menangis itu ibu kalian.Bagaimana perasaanmu? Sedih
bukan?.
Hingga puncaknya pada saat kami
kelas 3 ketikaAndini sedang pergi ke kantni, ada seorang siswa namanya Faldo
dia mencoret-coret buku Andini. Untung pada saat itu Aku melihatnya, segera ku
pukul Faldo dari belakang, Faldo membalsnya memukul wajahku hingga keluar darah
dari hidungku, Aku pusing. Faldo sudah siap menonjokku, untung Galang pasang
badan melindungiku. Satu kelas pun rame, sampai Aku dan Faldo dibawa ke ruang
Guru.
Aku pun menjelaskan semua yang
terjadi, tapii Faldo menepisnya. Guru pun memberi peringatan kepada Aku dan
Faldo. Ibunya Galang tahu semua itu, lalu melaporkannya kepada Orang tuaku.
Sepulang di rumah pun Aku di sidang oleh
kedua orang tuaku.
“Kenapa kau bisa berantem? Mau jadi
jagoan?” Tanya Bapakku sambil memegang rotan
“Tidak pak.” Jawabku dengan kepal
menunduk.
“Nak, dengerin Ibu berantem itu gak
ada gunanya, menag jadi Abu, kalah jadi arang. Sama-sama rugi.” Kata Ibuku
“ begini bu ceritanya.......”
Terpaksa Aku menceritakan kalau
Andini itu suika dibully oleh teman-temannya. Aku melanggar janji kepada Andini
untuk tidak mengatakan hal itu. Terus apa yang harus ku lakukan? Pasti Orang
tuaku menceritakannya kepada Orang tua Andini. Itu yang tidak ingin terjadi oleh Andini.
Dan boom, Pada keesokan harinya
Orang tuaku bercerita kepada orsng tua Andini. Aku tak tahu apa yang terjadi
selanjutnya?
“Andini maafkan Aku” Pintaku
(Andini hanya cemberut kearahku)
Seharusnya itu menjadi kebaikan bagi
Andini. Agar Andini tidak dibully lagi. Benar saja Orang tuanya meemukan
solusi tidak ingin Andini di bully lagi,
tapi dengan cara yang menurutku salah. Hari itu mungkin hari terkelam di masa
kecilku akan berpisah dengan salah satu sahabatku. Andini aka dipindahkan sekolahnya ke kota. Bukan hanya
karena bullyan tapi juga Ayahnya dipindahkan tugas ke Kota tersebut.
Waktu itu pun tiba ketika masuk
kelas 4 SD, Andini sudah pindah sekolah. Mungkin itu salahku. Aku selalu
menyalahkan diriku ketika teringat Andini.
Sekarang Sahabtku hanya tinggal si gendut, si tukang makan Galang. Aku
tak mau berpisah lagi dengan sahabatku. Galang pun kadaang suka marah padaku
karena telh berulah dengan menjauhkan Andini yang pindah ke kota. Aku pun tidak
mengetahu tempat tinggal Andini yang baru.
Aku menjalani hari-hari sepi tanpa
satu sahabtku, si muka jerawat, Andini. Tapi, Aku tak harus terus menerus
menerus menyalhkan diriku, karena Andini pindah sekolah. Aku harus bisa
mencapai prestasi dengan mengalahkan si Gilang. Wajarlah, sahabatku ini pintar Ayah
dan Ibunya guru. Setiap sekolah ia belajr, malemnya privat bersama ornag
tuanya. Gilang mepunyai target untuk bisa masuk SMP negeri unggulan di kota.
Karena itu, Aku harus berusaha agar tidak dapat berpisah lagi dengan sahabatku.
Aku ingin satu sekolah lagi dengan Galang. Setidaknya aku bisa mendekati
perolehan nilai Galang.
Tak terasa Aku dann Galang sudah di
penghujung tahun Ajran di kelas 6. Ketika akan menghadpi UNAku dan Galang
sering untuk belajar bareng.
“Woy,, Jupri kenapa lo?” Kata Galang
sambil mendorongku.
“Kalo lagi belajar bareng gini Gue jadi inget Andini”. Jawabku.
“Sudahlah Jupri, lo jangan so galau
gitu, lo suka kan sama Andini?.”
“Berisik Lo, Gue masih merasa
bersalah aja .” katakku.
“Tenang lah kan masih ada Gue,
sahabat lo juga.” Jawab si gendut .
( Aku hanya membalasnya dengan
senyuman).
Mungkin ini obrolan yang sangat gak
jelas pada anak usia SD. Namun, inilah jaman.
Teruskan berkarya kak
BalasHapus