Cerita Pendek



Karena Musibah, Aku Kuat
            Terjadi gempa dibeberapa titik di kotaku. “Apakah ini pertanda Tuhan murka kepada kotaku?” pikirku. Gempa yang begitu dahsyat, mengundang datangnya tsunami yang menyapu bersih kotaku. Aku pun ikut terbawa dalam ombak itu. Seketika aku terbangun, berada didalam sebuah pos(tenda) mendengar isak tangis orang-orang. Aku melihat disekelilingku mencari keluargaku “Dimana keluargaku?” tanyaku kepada petugas basarnas. Petugas itu terburu-buru menghampiri petugas lain untuk kembali mencari para korban tsunami. Aku hanya bisa meneteskan air mata membayangkan hidup sebatang kara.
            Tak lama berselang ,  datang beberapa petugas menemukan mayat 2 laki-laki dewasa. Rasa penasaranku semakin tinggi, segeralah aku menghampiri petugas tersebut. “Pak tolong dibuka tempat mayit itu?” pintaku. Jantungku berdetak cepat, siapakah yang ada dalam pembungkus itu? Dan ternyata itu orang yang tidak ku kenal “huh,leganya. Masih ada harapan keluargaku selamat.”  pikirku. Ternyata, masih ada satu lagi yang belum dibuka. Dibukanya bungkus tersebut, sesaat aku merasa lemas serasa ingin pingsan, ternyata itu mayat ayahku. Aku menangis tak karuan seolah-olah ingin membangunkan kembali ayahku. Air mataku turun begitu deras, pikiranku tak terarah, Aku berpikir ibuku juga meninggal.
            Belum usai kesedihanku, datang petugas memanggil 2 nama dan salah satunya ada namaku. “Ada apa ini?” tanyaku kepada petugas itu. Ada seseorang yang ingin berbicara kepadamu.” Jawab petugas tersebut. Petugas itu langsung menarikku ke tempat orang tersebut. Setelah kulihat dari jauh tidak nampak seseorang yang ku kenal, hanya ada segerombolan petugas yang mengevakuasi korban. Dan saya bersama petugas tadi menghampiri segerombolan petugas tersebut.
”Ibu,” aku menghampiri dan  langsung memeluknya. “Syukur kamu selamat nak .” kata ibu kepadaku.
 “Ibu kita ke pos pengungsian.” Ajakku kepada ibu.
“Kami pun ingin membawa ibumu, tapi dia menolak karena dia ingin mencari ayahmu.”
            Air mataku kembali turun, tak kuasa ingin mengatakan kepada ibu bahwa Ayah sudah ditemukan tapi dalam keadaan tidak bernyawa.
“Kenapa kamu menangis Nak?” tanya ibu
“Ayah,sudah meninggal Bu.” Jawabku
            Ibuku pingsan mendengar perkataanku. Segera dibawanya ke pos pengungsian untuk di cek medis. Alhamdulillah ibuku kembali sadar, dan langsung memelukku sambil menangis. Kami sadar kami harus mengikhlaskannya karena itu sudah menjadi suratan takdir ayahku. Kaimi percaya ayah akan menunggu kami disurga nanti.
            Bencana ini merupakan pelajaran bagi hidupku untuk senatiasa beribadah kepada sang khaliq. Mungkin saya dan masyarakat lainnya  lupa bersyukur kepada-Nya. Sehingga menjadikanNya murka lewat pesan yang dikirim melalui bencana ini.
            Memang bencana membuat kami terpuruk, kami masyarakat kota palu harus kuat dan bangkit. Aku percaya semua masyarkat kuat menghadapi cobaan ini. Aku juga sadar mugkin ini untuk menguji keimanan kita.
            Teringat tentang pesan Ayahku untuk menjaga Ibu dikala sudah menua. Itu mungkin permintaan terakhir ayah. Aku harus bisa menjaga Ibu, kalau bukan aku siapa lagi,sedangkan kakakku sedang merantau di pulau Kalimantan.
            Kesedihanku kembali berlanjut, ketika bangun pagi hari tiba-tiba Ibu menangis,dia berkata
“Nak, kaki Ibu kaku.”
“Sabar bu, nanti aku cari tim medis dulu.” Jawabku
            Aku berlari mencari tim medis untuk segera memeriksa ibuku. Aku mencari berkeliling sekitar posko pengungsian. Tiba-tiba aku melihat seorang yang telah dievakuasi, ternyata dia adalah sahabatku Toro. Badanku lemas melihat teman sebayaku tekulai lemas tak bernyawa. Ingin aku melihatnya kembali bermain bersama seperti dulu. Tapi, itu hanya angan-anganku semata.Segera kuusap air mataku dan mecari kembali tim medis. Akhirnya, aku menemukan tim medis disekitar kerumunan warga, ternyata tim medis itu sedang mengobati tetanggaku Pak Harjo. Namun, nyawa Pak Harjo tidak dapat diselamatkan, karena laporan tim SAR mengaatakn bahwa Pak Harjo ditemukan terjebak diantara puing-puing bangunan,yang membuat tulang-tulang tubuhnya patah dan sesak napas.
            Segera kubawa Tim medis untuk memeriksa keadaan ibuku. Setelah diperiksa ternyata Ibuku mengalami lumpuh, sontak aku menagis mendengar itu.
“Nak, kamu harus sabar.” Kata ibu untuk menegarkanku
“Tapi Bu, aku tidak kuat melihat keadaan ibu seperti ini.” Jawabku
“Ini merupakan takdir tuhan nak.”
            Memang Aku ini bisa disebut anak yang cengeng, namun cengeng karena melihat ibu terluka. Aku sangat tidak kuat melihat keadaan ibu seperti ini. Seperti wasiat Ayah aku harus menjaga Ibu. Aku ingat harus mengabari kakakku bahwa Aku dan Ibu selamat. Mungkin sekarang kakakku khawatir. Tapi aku bingung bagaimana cara mengabari kakakku.
            Ketika Aku berpikir, Aku melihat warga berbondong-bondong menuju keluar pos pengungsian. Ternyata, ada bantuan datang dari pemerintah. Segera Aku ikut berlari menuju kerumunan warga. Warga berebut untuk mengambil apa yang dibutuhkan oleh keluarganya selama di pos pengungsian. Perebutan tak terelakkan saling dorong, saling tarik terjadi.
            Puncaknya, seorang iu-ibu pingsan dalam kerumunan tersebut, segera petugas membantu ibu tersebut. Setelah kulihat ternyata iu ibunya Toro. Segera ku bantu dia. Aku menangis melihat Ibu Toro, teringat momen-momen bersama Toro. Ibu Toro bangun, dia tersenyum melihatku namun tiba-tiba ia menangis.
“Ada apa bu?’ tanyaku
“Melihat kamu, Ibu teringat kepada Toro.” Jawabnya
“Sudah bu, semoga Toro mendapat terbaik.” Jawabku sambil menahan tangis.
            Memang ibu Toro sudah kuanggap Ibuku sendiri. Setiap bermain di rumah Toro, aku dianggap sebagai anaknya. Ketika mengobrol dengannya pun sudah tak canggung. Ibu Toro sangat baik padakku. Ketika itu pernah aku seahrian bermain di rumah Toro diberikan makan hingga larut malam aku pun menginap dirumahnya. Aku merasa aku juga harus bisa menjaga Ibunya Toro.
“Ibu kalau kakaknya Toro dimana?” tanyaku
“Kak Ryan sudah keja di Singapura, Ibu belum sempat mengabarinya tentang keadaan Ibu dan keluarga.” Jawab ibunya Toro.
“Kalau boleh Tau? Ayahnya Toro kemana?” tanyaku
“Ini yang Ibu belum sampaikan kepada Toro, sebenarnya Ibu dan Ayah Toro sudah bercerai ketika Toro bayi. Dan Ayahnya Toro bekerja di Malaysia kemudian sudah menikah kembali.” Jawab Ibu
“Jadi Toro belum pernah melihat Ayah kandungnya?”
“Belum sama sekali, karena dia merasa bahwa ayahnya adalah Pak Suro.”
“Lalu Pak Suro kemana?” tanyaku
“Belum ditemukan.” Jawab Ibu Toro belum menangis
            Pak Suro adalah suami dari Ibunya Toro yang menikahinya setelah bercerai dengan ayahnya Toro. Memang Pak Suro itu baik, setiap Aku bermain bersama Toro aku selalu diberi uang jajan.
“Ibumu kemana, nak?” Tanya Ibunya Toro
“Ibu alhamdulillah selamat, tapi ia mengalami lumpuh.” jawabku
“Lalu ayahmu?”
Dengan perasaan sedih Aku menjawab
“Ayah sudah ditemukan, dalam keadaan meninggal.”
“Yang sabar ya nak” jawab ibunya toro.
            Bencana alam menjadi teramat sangat memukul keadaan kesejahteraan masyarakat. Aku melihat disekelilingku setiap hari yang ku dengar hanya isak tangis. Kelaparan pu melanda ketika bantuan tak kunjung datang. Kalau hidup bisa memilih, Aku tidak ingin seperti ini. Tapi kenyataannya seperti ini.
            Setelah diaktifkannya kembali bandara, Aku berharap Kakakku segera pulang. Kakakku ini bekerja sebagai TNI menjaga perbatasan di daerah klimantan.Terkadang kakakku jarang pulang, terhitung dia pulang setahun sekali. Dia sangat tegas tehadapku dia mengarahkanku agar mencapai cita-cita. Jadi, Aku teringat pesan Ayahku untuk menggapai segala keinginanku tapi tidak melupakan akhirat.
            Lamunanku buyar, ketika mendengar suara helikopter. Aku segera melihatnya, ternyata itu merupakan helikopter yang membawa bantuan bersama dengan TNI. Segerakan dibaginya sembako dan kebutuhan lainnya kepada setiap warga. Setelah aku mengambil  mengambil bagianku, tiba-tiba ada yang memelukku dari belakang dengan isak tangisnya. Dia memaki seragam TNI dengan gagah. Dia adalah kakakku.
“Alhamdulillah kamu selamat dek.” Kata kakakku
“Iya kak, kakak apa kabar?”
“Kakak baik saja, sebelumnya kakak minta maaf akhir-akhir ini jarang mengabari karena kakak sedang digembleng pelatihan. Ketika mendapat kabar tentang bencana yang dialami kota Palu kakak sangat was-was. Kakak mencoba menghubungi nomer kamu, Ibu, ayah, dan teman kakaku tidak ada yang aktif, pikiran kakak tak karuan.” Penjelasan kakak
“Iya kak aku dan ibu selamat, tapi,”
“Ibu dimana? Antar kakak menemui Ibu.” Jawabnya
            Segera ku tuntun Kakak masuk posko pengungsian untuk bertemu Ibu. Tapi aku mengantar kakaku dulu untuk mengambil apa yang dibutuhkan aku, yang telah dibelikan oleh kakakku. Sesampainya bertemu Ibu kakak memeluk dan menangis. Terliaht kakakku sangat sedih melihat apa yang dialami Ibu.
“Ibu kenapa dek?” tanya kakak
“Ibu lumpuh kak.” Jawabku
Kakakku tak bisa membendung kesedihannya.
“kamu bagaimana kabarnya kak? Bagaimana dengan pekerjsanmu?” tanya Ibu
            Itulah bagaimana kasih sayang seorang Ibu terhadap anaknya, walaupun sedang mengalami duka dan lumpuh, Ibu tetap menunjukkan kasih sayangnya.
“Alhamdulillah semuanya baik-baik saja.”
“ Ayah kemana?” sambung kakakku
            Aku dan Ibu kembali menangis. Mendengar pertanyaan kakaku. Pertanyan yang sangat tidak ingin ku dengar
“kenapa Adek dan Ibu menangis?” tanya kakaku
“Ayah sudah meniggal kak.” Jawabku
“Ayah ditemukan di sekitaran masjid dekat rumah, jasadnya sudah dibawa dan dikuburkan.” Sambungku
            Kakakku kembali menangis, mungkin diia teringat tentang dulu sebelum ia pergi merantau, Ayah selalu pulang malam dari pekerjaanya untuk membiayai sekolah kakak menjadi TNI, belum lagi dia pernah berdosa kepada Ayah dengan memakai uang SPP untuk jajan. Ayah pun mengetahuinya, tetapi Ayah tidak memearahi kakak, ayah hanya tersenyum.
“Banyak dosa kakak terhadap ayah dek, kakak menyesal tidak dapat melihat ayah untuk yang terakhir kalinya.  Kakak merasa anak yang tidak berguna bagi keluarga.” Kata kakak dengan rasa  kecewa.
“ Sudah kak itu merupakan bencan bagi kita, kakak jangan bicara seperti itu kakak baik terhadap ayah, bisa membantu untuk menyekolahkan adek.” Jawab ibuku
“Tapi bu,”
“Sudah jangan mengungkit lagi” potong Ibu.
            Kakakku mendapat panggilan dari atasan untuk segera pergi bertugas kembali . kakak segera berpamitan tehadapku dan Ibu. Kakak itu anak yang kuat , aku bangga mempunyai kakak sepeti dia. Dia adalah sesosok kakak yang mampu menggantiakn peran ayah.
            Aku mendapat kabar dari warga sekitar pengungsian ada orang yang meninggal. Segera ku ikuti para warga untuk melihat orang tersebut. Setelah sampai, ternyata ibunya Toro. Sontak aku menangis melihat semua itu. Ibu yang kuanggap sebagai Ibuku sendiri. Telah meninggal karena depresi.
            Tak terasa sudah pagi, aku bangun dari tidurku tapi ku liahat ibuku masih tertidur pulas disampingku. Seperti biasa aku menyiapkan sarapan untuk ibu. Namun, setelah kutungu berjam-jam ibuku tak kunjung bangun, segera aku mencari pertolongan medis. Aku membwa tim medis tersebut untuk mengecek keadaan ibu.
“Maaf dek Ibu sudah meninggal.” Kata salah seorang medis
“Tidak, tidak mungkin. Ibu .” Aku mengis memeluk jasad ibuku.
            Setelah bencana tersebut, Aku tinggal bersama Kakakku di kota. Aku harus daopat beradaptasi kembali dengan lingkungan. Kota besar yang ku kenal keadaan hidupnya keras. Begitu mungkin kata teman-temanku yang mendengar dari kakaknya. Tetapi, Kakakku tak pernah mengeluh akan hal itu, karena itulah Aku percaya dapat hidup di Kota besar.
            Sebulan kemudian Aku masuk sekolah di salah satu sekolah yang bisa dibilang sekolah favorit di Kota itu. Entah bagaimana Kakakku mendaftarkanku,tetapi inilah hasilnya aku berhasil masuk. Tak terbayang bagaimana siswa siswinya,
 “semoga bisa berteman baik denganku. “ pikirku.
            Dari lamunanku itu, Aku teringat kembali kedua Orang tuaku saampai aku menitihkan air mata. Aku teringat kala itu pas awal masuk sekolah dasar aku dipakaikan pakaian seragam dengan rapi oleh ibuku, dan aku diantarkan oleh Ayahku dengan mengendarai sepeda tua . Walaupun itu sudah lama dan Aku sekarang masuk SMA kelas 12 di Kota besar pindahan dari daerah pesisir pantai, tetapi aku masih mengingat hal itu. Aku seka air mataku, berusaha kembali tersenyum. Aku percaya kedua Orang tuaku bahagia melihat anaknya tersenyum bahagia tidak bersedih lagi.
“Dek, kenapa kamu menangis ?” tanya Kakakku menghampiriku.
“Aku teringat Ibu dan Bapak Kak.” Jawab Aku
“Kamu yng ya dek,, Kakak besok berangkat lagi bertugas ke Kalimantan Kamu baik-baik disini.” Kata Kakakku.
“Terus disini Aku sama siapa Kak?” Tanyaku.
“Sendiri tidak apa-apa?” kata Kakakku.
“Iya Kak.” Jawab Aku dengan pelan merasa tak rela ditinggal Kakak.
            Kakakku pernah bercerita mengapa ia tidak membawa Aku ke Kalimantan, sebab Aku agar lebih terbiasa hidup di kota besar. Karena Kakakku pernah mengalaminya ketika ia masih bersekolah sejak SMA di kota Jakarta mendapatkan beasiswa. Jadi Kakakku menyuruh agar Aku bersekolah disini.Mungkin Aku merasa tidak percaya diri untuk tinggal sendiri di Kota Jakarta ini terlebih belum tau jalan-jalan di Jakarta. Apalagi karakter orang-orang, apakah sama seperti orang yang hidup di pesisir pantai, Kurasa pasti berbeda.
            Keesokan harinya Kakakku mengatarkan Aku ke sekolah, lalu ia terbang ke Kalimantan. Sekarang Aku tahu angkutan Umum yang menuju sekolah ku. Setelah itu,Aku mengikuti Upacara bendera, mata semua orang tertuju kepadaku, Aku heran apakah ada yang aneh denganku. Setelah upacara dibubabrkan Aku bingung dimana kelasku. Ada orang menghampiriku
“kamu murid baru?” tanyanya
“iya”  jawabku
“kenalkan Aku Trio.” Sambil mengulurkan tangannya.
“Aku Danu.”
“Kenapa kamu tidak masuk kelas?” tanyannya
“Aku bingung kelasku dimana.” Jawabku
“Emang Kamu kelas apa?’
“ 12 IPA 4.”
“Ayo Aku antar.” Jawab Trio sambil menarik tanganku.
“Ini kelas kamu .” dia mengantarku sampai depan kelas
“Terima kasih.” Jawabku
            Lalu dia berlari menuju kelasnya, sampai aku lupa menanyakan kelasnya dimana.
Kemudian, Aku masuk kelas semua orang terdiam melihat kearahku. Aku mecari tempat yang kosong, lalu seorang perempuan berkata “Ayo duduk disini.”
Berkenalan lah aku dengannya
“ Nama Kamu siapa? Kenalkan nama Aku Weni.” Tanyanya
“Nama Aku Danu.” Jawabku.
            Tibab-tiba kelas senyap, ternyata ada seorang guru memasuki kelas
“Baik anak kita mulai belajar hari ini.”
“Itu yang dibelakang Ibu baru lihat, kamu murid baru?” sambung Ibu guru
“Iya Bu,” jawabku
“Kamu adiknya Herman  ya?” Tanya ibu guru
“Iya betul bu” jawabku (Aku bingung kenapa Ibu ini tahu aku adiknya Herman)
“Ayo sini kedepan kenalin diri kamu.” Kata Ibu guru.
Aku berjalan kedepan “Kenalkan nama saya Danu, Aku pindahan dari Palu.”
“Hai Danu.” Jawab teman-teman kelasku.
“Silahkan duduk kembali Danu.” Kata bu guru
            Aku pun kembali duduk. Ternyata Guru itu adalah Calon Istri dari Kakakku, seteklah tahu namanya Rini. Kakakku menitipkan Aku kepada dia.
            Perlahan-lahan Aku Akrab dengan teman-teman sekelasku, walaupun terasa berbeda dengan teman-temanku, Aku teringat kepada Toro teman dekat atau bisa dibilang sahabat  yang telah pergi mendahuluiku. Kalau Aku punya masalah pasti Dia menjadi pendengar yang baik dan memberikan saran kepadaku.
            Ketika Aku berjalan untuk pergi ke toilet Aku melihat seorang gerombolan anak-anak sedang meminta uang paksa kepada Trio. Aku menghampirinya
“Trio,” teriakku
Aku langsung menarik Trio dari orang itu,
“Mau jadi pahlawan” jawab salah satu diantara mereka, bebadab kecil dan tinggi
“Anak baru sok-sokan” sambungnya.
Lalu mereka pergi, meninggalkan Aku dan Toro.
“ mereka siapa ?” tanyaku.
“Bisa dibilang mereka anak-anak pembuat onar” Jawabnya
“trima kasish, aku kembali ke kelas” sambungnya, lalu pergi.
            Aku bingung, secara tidak langsung aku telah membuat masalah dengan mereka mungkin Aku akan dimusuhi oleh mereka. Kalau dulu pasti Toro yang menolongku saat-saat seperti ini.
            Karena rasa lapar aku pergi ke kantin untuk membeli nasi uduk.
“ berapa bu ini sama minumnya.” Tanyaku
“ !0 ribu dek,” jawab Ibu kantin
“mahal sekali.” Pikirku (sambol memberikan selembar uang 10 ribu)
            Kalau dulu sekolaku makan nasi uduk sama minum itu hanya 5 ribu, menurutku ini terlalu mahal untuk kantong pelajar. Tetapi aku melihat disekeliling kantin banyak anak-anak yang jajan lebih dari yang ku makan tadi. Aku harus bisa berhemat dari uang jajan yang diberikan oleh kakakku.
            Setelah itu aku pergi ke perpustakaan, disana tempatnya lebih mewah dibandingkan sekolahku dulu. Lebih nyaman lagi. Aku ditawarkan untuk mnjadi pustakawan karena kekurangan anggota. Sponta kau mengiyaka itu, karena dulu aku merupakan pustakawan di sekolahku. Aku berkliling diperpustakaan itu ternyata buku-bukunya lengkap dan banyak buku yang menari perhatianku. Tapi, aku bingung dengan tempat semewah, nyaman, dan buku-buku yang lengkap perpustakaan masih saja sepi peminat. Padahal, buku itu jendela ilmu.
            Benar saja sepulang sekolah aku di cegat oleh anak-anak pengacau tadi, mereka sepertinya dendam padaku. Aku berlari, mengejar ke arahku. Hingga pada jalan buntu, Aku bingung, apa yang harus ku lakukan. Mereka semakin mendekat, hantaman pun menghujam mukaku, sampai aku tak sadarkan diri.
            Aku sadar dan sudah berada di Puskesmas dengan keadaan muka memar. Aku tak tahu daerah tersebut dimana. Aku menyusuri jalan kota yang ramai sambil menagis teringat mereka yang di telan bencan di mulai orang tua, teman dekat, dan kerabat-kerabatku. Tubuhku lemas, perutku terasa lapar, uang di saku pun tidak ada di ambil paksa oleh anak-anak tadi. Aku harus kuat mengahdapi ini, Aku percaya Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan makhluk-Nya. Akhirnya, ada mobil berhenti ke arahku, ternyata Bu Rini. Kemudian Ia membawaku ke rumah Kakakku.
“Kamu kenapa Danu?” tanya Bu Rini.
“ Saya lari karena di kejar oleh anak-anak pembuat onar.” Jawabku
“ Siapa?’ tanyanya
“Tidak tahu Bu.”
“Ya sudah kamu makan, lalu tidur. tadi Ibu bawa makanan ada di meja.” Suruh nya
“ Terima kasih Bu,”
            Aku semakin yakin dengan pilihan Kakakku. Ia tidak salah memilih Bu Rini, ia baik, cantik, lembut, dan perhatian lagi.
            Dri kejadian semalam Aku merasa sebagai orang pendatang yang polos. Memang seperti itu kenyataannya, tapi Aku harus kuat mengahadapi rintangan hidup ini. Aku harus lebih giat lagi belajar untuk mencapi impian.Aku harus kuat, tidak boleh terlihat lemah.
            Beberapa bulan kemudian, Kakakku pulang dari Kalimantan. Ku ceritakan semua tentang kebaikan Bu Rini selama Kakakku di kalimantan, dari mulai mendidiku sampai menjaga ku. Kakakku akan menikahi Bu Rini setelah saya lulus SMA.
            Hari yang kunanti pun tiba, pengumuman kelulusan yang sangat mendebarkan. Memang Guru mengatakan lulus 100%, tapi yang aku targetkan masuk 3 besar nilai tertinggi. Dan, alhamdulillah target ku melebihi, aku mendapat peringkat 1 nilai tertiggi di sekolah unggulan yang siswanya anak-anak kota. Memang usaha tak menghianati hasil, Aku pun diterima di Perguruan Tinggi Negeri, yaitu Universitas Indonesia  jurusan kedokteran. Inilah cerita si anak kampung yang pindah ke kota besar karena sebuah musibah yang menjadikannya kuat dan berhasil menggapai impian.





 



           



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kesehatan Mahal Harganya

CONTOH CERITA PENDEK